Berburu Takjil Khas Manado, Pedagang Ngaku Omzet Meningkat
Bulan suci Ramadan tidak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga geliat ekonomi bagi para pedagang takjil musiman di Kota Manado.
Sejak siang hari, deretan lapak penganan berbuka puasa mulai bermunculan menyuguhkan berbagai kudapan khas, mulai dari lampu-lampu hingga lalampa.
Menariknya, para pedagang mengaku justru meraup untung lebih besar pada hari kerja atau weekday, seiring tingginya permintaan dari para pekerja kantoran yang memburu takjil sebelum pulang ke rumah.
Memasuki waktu siang hari, sudut-sudut jalan di Kota Manado, Sulawesi Utara, mulai diramaikan oleh aroma harum aneka kue basah dan gorengan. Salah satunya adalah lapak milik Riani, pedagang takjil yang ramah melayani pelanggan setianya mulai pukul 13.00 WITA hingga waktu Magrib tiba.
Berbagai menu andalan seperti risol, lalampa, cantik manis, hingga kue tradisional khas Sulawesi Utara seperti lampu-lampu dan kue makao, menjadi primadona yang paling cepat ludes diburu warga. Uniknya, jumlah dagangan yang disiapkan sangat bergantung pada hari kerja. Riani mengaku pesanan justru melonjak saat hari kerja karena banyaknya pegawai kantoran yang singgah untuk membeli takjil.
Dengan omzet harian mencapai 250 ribu rupiah, bisnis takjil musiman ini terbukti menjadi penopang ekonomi yang menjanjikan selama bulan suci Ramadan. Meski persaingan cukup ketat, rasa yang autentik dan harga yang terjangkau tetap menjadi kunci bagi para pedagang kecil untuk mendulang berkah di bulan penuh ampunan ini.