Cahaya Harmoni di Bumi Intan, Cap Go Meh Satukan Ragam Etnis
Pemirsa, cahaya lampion menerangi langit Kota Intan Ngabang, Kabupaten Landak, saat ribuan warga tumpah ruah merayakan Cap Go Me 2577 Kongzili tahun 2026.
Tak hanya menjadi penutup rangkaian Imlek, perayaan ini juga menjelma sebagai simbol harmoni lintas etnis dan agama, terlebih karena berlangsung di tengah bulan suci Ramadan.
Gemerlap lampu lampion merah menerangi sepanjang Jalan Pasar Baru di kawasan Pasar Hongkong Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Selasa malam. Ribuan warga dari berbagai penjuru Landak memadati lokasi untuk menyaksikan puncak Cap Go Me di Bumi Intan.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa kental. Tua, muda, maupun anak-anak dari etnis Tionghoa, Dayak, Melayu, Jawa, hingga Batak larut dalam kegembiraan yang sama. Momen ini kian bermakna karena beriringan dengan bulan suci Ramadan, menegaskan pesan toleransi dan persaudaraan di Bumi Intan.
Tepat pukul 20.00 WIB, atraksi dimulai. Pertunjukan barongsai membuka perayaan dengan gerakan lincah dan penuh semangat. Magnet utama malam itu adalah atraksi Tatung. Aksi ekstrem yang sarat makna spiritual tersebut membuat penonton terpana. Menariknya, para Tatung merupakan perwakilan komunitas lokal Landak, baik dari etnis Tionghoa maupun Dayak, yang menunjukkan perpaduan budaya yang harmonis.
Sebelum puncak malam hari, ritual “Cuci Jalan” telah digelar sejak pagi. Prosesi dimulai dari Pekong Thian Cun Shin Ti di Pulau Bendu, melintasi Simpang Armed, Jalan Pasar Lama, Kelenteng Hati Murni, area Jalan Pasar Baru (Pasar Hongkong), hingga kembali ke titik awal.
Beberapa perwakilan panitia dan tokoh menyampaikan apresiasinya:
“Hari ini adalah ritual hari ke-15 Imlek, yaitu Cap Go Me. Ritual Tatung ini sudah empat tahun kami laksanakan. Harapan kami, ke depan bisa semakin ramai dan semakin meriah.”
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, panitia, dan pemerintah daerah yang telah mendukung kegiatan ini sehingga berjalan dengan baik. Kegiatan ini bagian dari kekayaan budaya kita. Harapannya bisa terus dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata Kabupaten Landak.”
Perayaan puncak Cap Go Me Landak 2577 bukan sekadar perayaan budaya tahunan. Perayaan ini juga menjadi penegasan bahwa di Bumi Intan Ngabang, perbedaan bukanlah sekat, melainkan jembatan menuju harmoni. Di bawah cahaya lampion yang berkilau, keberagaman bersinar sebagai kekuatan yang menyatukan Kabupaten Landak.