Dampak BBM Sulit di Batu Ampar, Tarif Transportasi Air Naik
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi mulai dirasakan masyarakat di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan tarif transportasi air hingga mengganggu akses layanan kesehatan bagi warga di wilayah pesisir.
Kelangkaan BBM terjadi sejak Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) atau Depot Pertamina Terapung di Batu Ampar berhenti beroperasi sejak Sabtu, 14 Maret 2026.
Padahal, wilayah tersebut sangat bergantung pada distribusi BBM melalui jalur perairan untuk melayani kebutuhan vital di 15 desa yang tersebar di kecamatan tersebut.
Camat Batu Ampar, Alfian, mengatakan bahwa sulitnya mendapatkan BBM telah menimbulkan situasi darurat di tengah masyarakat.
Bahkan, dilaporkan seorang warga yang hendak melahirkan terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk jasa transportasi air dengan biaya tinggi akibat kelangkaan stok bahan bakar di pasaran.
Alfian menegaskan bahwa kondisi saat ini sudah masuk kategori darurat BBM. Selain barang yang sangat sulit diperoleh, harga BBM di tingkat eceran juga melonjak drastis hingga mencapai 22 ribu rupiah per liter, yang tentu sangat memberatkan daya beli masyarakat pesisir.
Krisis ini turut memicu kenaikan tarif transportasi air yang menjadi satu-satunya akses mobilitas utama masyarakat.
Para operator angkutan air mengalami kesulitan besar dalam memperoleh pasokan, sehingga biaya operasional meningkat tajam dan terpaksa dibebankan kepada para penumpang.
Pemerintah Kecamatan Batu Ampar berharap Pemerintah Daerah, Pertamina, serta pihak terkait dapat segera duduk bersama untuk mencari solusi atas krisis ini. Hal ini dinilai mendesak mengingat dampaknya telah meluas ke berbagai sektor vital, termasuk kesehatan dan ekonomi masyarakat di wilayah Kubu Raya.