Jadi Perhatian Nasional! Kasus Anak di NTT Dianggap Mengkhawatirkan
Kasus meninggalnya seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang diduga bunuh diri karena tekanan sosial dan keterbatasan ekonomi menjadi perhatian nasional.
Komisi IX DPR RI menilai peristiwa ini sebagai darurat kesehatan mental anak yang harus segera ditangani secara serius oleh pemerintah pusat dan daerah.
Komisi IX DPR RI menyoroti kasus anak di NTT dari sisi kesehatan mental. Menurut Wakil Ketua Komisi IX, Yahya Zaini, kondisi kesehatan mental anak di Indonesia saat ini sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.
Data menunjukkan satu dari tiga anak usia sepuluh hingga tujuh belas tahun mengalami gangguan kesehatan mental.
Gen Z dan Generasi Alpha dinilai sangat rentan, terutama karena paparan teknologi digital dan media sosial yang berlebihan. Hal ini memicu kelelahan mental dan menurunkan daya tahan psikologis anak.
Yahya menilai kasus ini menjadi wake up call bagi semua pihak karena tidak mungkin anak dengan usia sedini itu mengambil keputusan ekstrem tanpa tekanan psikologis yang berat. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Selain fokus pada anak, Komisi IX juga menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua, terutama dalam memberikan ruang sosial dan perhatian emosional kepada anak.
Kondisi keluarga yang tidak harmonis juga dinilai menjadi salah satu faktor risiko. Sebagai langkah pencegahan, Komisi IX mendorong agar kesehatan mental dimasukkan ke dalam program Cek Kesehatan Gratis atau CKG, terutama bagi anak-anak usia dini mengingat meningkatnya kasus bunuh diri pada usia muda.
Komisi IX DPR RI menegaskan penanganan kesehatan mental anak tidak bisa ditunda. Keterlibatan aktif pemerintah, orang tua, dan sekolah menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang kembali. (FZR)