Kondisi Cuaca Saat Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG menyebut ada awan cumulonimbus di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, saat pesawat ATR 42-500 hilang kontak pada Sabtu lalu.
Keberadaan awan cumulonimbus yang tebal di lokasi pendaratan perlu diwaspadai pelaku penerbangan.
Dalam rapat kerja dengan Komisi Lima DPR RI, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani mengungkapkan kondisi cuaca di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada saat pesawat ATR 42-500 jatuh di Gunung Bulusaraung.
Faisal menyebut saat kejadian ada awan cumulonimbus atau awan CB di area Bandara Sultan Hasanuddin yang menjadi lokasi pendaratan ATR 42-500.
Awan CB yang berada di sekitar bandara cukup tebal dan berada di ketinggian seribu tujuh ratus kaki. Bahkan sempat turun hujan sesaat di area bandara. Keberadaan awan CB menurut Faisal perlu diwaspadai. Hal ini karena awan CB dapat mengganggu penerbangan.
Pesawat turboprop ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan jatuh di Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dengan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Sebelum ditemukan jatuh, pesawat yang mengangkut 10 orang ini sempat hilang kontak di kawasan Pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Pesawat itu tengah menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. (TIM)