Menengok Masjid Cap Panah yang Jadi Tempat Singgah Jawara Hingga Habaib
Masjid Jami Muyassarin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dipercaya telah berusia lebih dari 200 tahun.
Didirikan pada 1779, masjid ini memiliki lambang menara yang tak seperti masjid pada umumnya. Jika biasanya menara masjid berlambang bulan sabit, menara Masjid Jami Muyassarin berlambang panah.
Seperti apa Masjid Jami Muyassarin Kebayoran Lama? Berikut liputannya.
Terletak di jalan buntu, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Masjid Jami Muyassarin awalnya hanya berupa bangunan kecil seperti musala.
Seiring waktu berjalan, masjid ini terus mengalami perluasan dan pemugaran.
Pemugaran total terakhir dilakukan pada tahun 1995. Namun, satu bagian tetap dipertahankan sebagai bangunan asli, yaitu menara masjid.
Pada masa lalu, masjid ini menjadi tempat singgah para pendekar bela diri atau yang kerap disebut sebagai jawara, hingga pemuka agama seperti kiai dan habaib yang melintasi wilayah Kebayoran Lama.
Saat itu, masjid ini belum dikenal dengan nama Muyassarin, melainkan dikenal sebagai “Masjid Berlambang Panah”. Lambang panah tersebut menjadi ciri khas, sekaligus penunjuk arah kiblat menuju Masjidilharam.
Di sebelah kiri masjid, terdapat makam para pendiri dan pewakaf masjid. Keberadaan makam menjadi bukti sejarah wakaf dan peran tokoh-tokoh agama dalam pembangunan masjid ini.
Hingga kini, Masjid Jami Muyassarin tetap menjadi pusat ibadah dan simbol warisan religi masyarakat Kebayoran Lama.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Jami Muyassarin menjadi simbol sejarah, perjuangan, dan warisan spiritual masyarakat Kebayoran Lama. Menara tua, makam para pendiri, serta kisah “Masjid Cap Panah” menjadikannya sebagai ikon religi yang terus hidup dan terjaga hingga kini. (JPTV)