Menteri ESDM: 25 Persen Impor Minyak RI Lewat Selat Hormuz Iran
Pemerintah terus mewaspadai dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait potensi penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan skenario terburuk untuk menjaga ketahanan energi nasional, mulai dari pengalihan impor minyak hingga pembangunan cadangan strategis.
Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran membuat Selat Hormuz kini menjadi titik panas yang mengancam stabilitas energi dunia. Wilayah ini merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20,1 juta barel minyak per hari. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa meski Indonesia bergantung pada impor dari Timur Tengah, saat ini porsi impor minyak mentah (crude) dari Selat Hormuz hanya berkisar 20 hingga 25 persen. Selebihnya, Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber energi dari Afrika, Amerika, hingga Brasil.
Selain pasokan, pemerintah juga mewaspadai fluktuasi harga minyak dunia. Saat ini, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) telah menyentuh angka 78 hingga 80 dolar AS per barel. Angka ini melampaui asumsi APBN yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel. Kenaikan ini diprediksi akan membengkakkan beban subsidi negara.
Meski demikian, Bahlil memastikan stok BBM dan elpiji nasional untuk kebutuhan Hari Raya Idulfitri dalam kondisi aman. Pasokan BBM saat ini berada di atas standar minimum nasional, yakni 21 hari. Guna memperkuat ketahanan energi jangka panjang, pemerintah juga berencana membangun fasilitas penyimpanan (storage) dengan kapasitas hingga 3 bulan sesuai standar internasional. Langkah ini diambil agar Indonesia tidak lagi terjebak dalam dinamika geopolitik global yang tidak menentu.