Pemerintah Respon IHSG Jeblok, Percepat Demitualisasi BEI
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir menyusul penurunan rating investasi Indonesia oleh lembaga keuangan internasional, UBS dan Goldman Sachs.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh dan pemerintah telah menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar modal.
Kondisi pasar modal Indonesia menjadi sorotan setelah beberapa hari berturut-turut baru-baru ini mengalami penurunan. Sentimen negatif muncul usai lembaga global UBS dan Goldman Sachs menurunkan peringkat investasi Indonesia.
Namun demikian, pemerintah meminta investor tidak panik. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter berjalan sangat baik, dan terbukti IHSG sudah kembali masuk ke zona hijau pada Jumat pagi, 30 Januari kemarin.
Untuk memperkuat kredibilitas pasar modal, pemerintah mempercepat proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Langkah ini merupakan transformasi struktural yang sudah diatur dalam Undang-Undang P2SK.
Tujuannya adalah mengurangi benturan kepentingan antara pengurus dan anggota bursa, serta mencegah praktik pasar yang tidak sehat. Dengan demutualisasi, Bursa Efek Indonesia juga berpeluang untuk melakukan go public atau melantai di pasar modal di masa depan.
Selain demutualisasi, OJK dan BEI ditargetkan merilis aturan baru pada Maret mendatang terkait peningkatan ambang batas saham publik atau free float. Pemerintah akan menaikkan standar free float dari tujuh setengah persen menjadi lima belas persen.
Angka ini dinilai lebih kompetitif dibandingkan Singapura dan Filipina yang berada di angka sepuluh persen.
Dengan free float yang lebih tinggi, perdagangan saham diharapkan lebih stabil dan mengikuti standar internasional. Dengan berbagai langkah strategis ini, pemerintah optimis kepercayaan investor akan kembali pulih dan pasar modal Indonesia akan semakin tangguh menghadapi dinamika ekonomi global. (PTR)