Gema Musik Dunia di Kaki Gunung Santubong: RWMF 2026 Hadirkan Kolaborasi Lintas Generasi dan Budaya
KUCHING — Alunan musik etnik dan modern berskala global siap mengguncang beranda budaya Borneo. Festival musik legendaris, Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026 edisi ke-29, resmi bergulir di kawasan ikonik Kampung Budaya Sarawak (Sarawak Cultural Village), mulai Jumat (26/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026).
Edisi tahun ini terasa sangat spesial setelah RWMF sukses menembus peringkat ke-8 dalam daftar Top 10 Festivals global versi Transglobal World Music Chart. Prestasi ini kian mengukuhkan posisi Sarawak sebagai destinasi utama pariwisata budaya dan festival internasional di kawasan Asia Tenggara.
Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak, YB Dato Sri Haji Abdul Karim Rahman Hamzah, menegaskan bahwa RWMF telah melampaui batas definisi sebuah konser musik konvensional.
“RWMF adalah wadah pertemuan berbagai kebudayaan, peleburan tradisi artistik, dan sebuah panggung intim di mana para musisi dari seluruh belahan dunia berkumpul untuk membagikan kisah hidup mereka melalui ritme, melodi, dan warisan leluhur,” tutur Dato Sri Haji Abdul Karim.
Festival tahun ini dipastikan menyuguhkan energi magis di bawah kaki Gunung Santubong dengan menghadirkan lebih dari 200 penampil dari 13 negara. Tiga musisi legendaris lintas genre dipastikan mengomandoi panggung utama setiap malamnya:
-
26 Juni 2026 — Dato’ M. Nasir (Malaysia): Penyanyi, komposer, dan produser legendaris yang telah berpengaruh selama lebih dari empat dekade. Ia dikenal lewat lirik puitisnya yang mengawinkan elemen Melayu tradisional dengan aransemen kontemporer.
-
27 Juni 2026 — The Commodores featuring Thomas McClary (AS): Band ikonik era funk dan soul dunia yang siap membawa penonton bernostalgia lewat tembang hits abadi seperti Easy, Three Times a Lady, dan Brick House.
-
28 Juni 2026 — Incognito (Inggris): Band acid-jazz ternama pimpinan Jean-Paul “Bluey” Maunick yang siap membius penonton lewat ritme rancak perpaduan soul, funk, dan world music lewat lagu Always There serta Still a Friend of Mine.
Daya tarik RWMF tidak hanya bertumpu pada kemegahan konser malam hari. Sepanjang siang, para pengunjung dapat menikmati pengalaman imersif melalui lebih dari 50 sesi workshop interaktif, demonstrasi budaya, dan mini session khusus. Di sini, penonton bisa berinteraksi langsung dan terlibat dalam kolaborasi spontan bersama musisi dunia.
Selain itu, RWMF 2026 memperkenalkan inovasi baru berupa BIMP-EAGA Gastronomy Showcase. Zona kuliner ini menyajikan kekayaan rasa dan tradisi memasak otentik dari sub-regional Borneo yang melibatkan mitra kuliner dari empat negara: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Prinsip keberlanjutan lingkungan tetap menjadi pilar utama perhelatan RWMF. Melalui gerakan peduli lingkungan seperti Green Ruai, Green Warriors, dan program penanaman pohon EcoGreen Planet, RWMF konsisten menekan emisi karbon sisa pelaksanaan festival.
Sejak tahun 2023, program ini telah menanam lebih dari 6.000 bibit pohon di kawasan konservasi vital, termasuk Suaka Margasatwa Samunsam, Cagar Alam Bukit Lima, dan Cagar Alam Piasau. Pada tahun 2026 ini, panitia optimistis dapat menembus target 10.000 pohon, satu tahun lebih cepat dari target awal yang dicanangkan untuk tahun 2027.
Bagi para penikmat musik yang ingin hadir, pembelian tiket resmi dapat diakses melalui situs rwmf.net atau platform Ticketmelon. Panitia juga menyediakan opsi pembayaran fleksibel Buy Now Pay Later (BNPL) lewat Grab PayLater, Shopee PayLater, dan Atome untuk memudahkan para pelancong internasional menjangkau festival ini.