Semarak Roah Tradisi Tahun Baru Padi di Sehe Embuluh
Momen penuh syukur dan kebersamaan terlihat dalam perayaan Tahun Baru Padi atau Roah di Dusun Sehe Embuluh, Desa Sehe Lusur, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Tradisi turun-temurun masyarakat Dayak ini tak hanya menjadi ungkapan terima kasih atas hasil panen, namun juga menjadi ajang mempererat persaudaraan antar warga di wilayah tersebut.
Suasana meriah menyelimuti Dusun Sehe Embuluh pada 24 Maret 2026. Warga Dayak Balangin menggelar tradisi Tahun Baru Padi atau Roah sebagai wujud syukur kepada Jubata atas panen yang melimpah.
Ritual ini merupakan bagian penting dari siklus hidup masyarakat agraris yang tetap terjaga hingga saat ini.
Sejak pagi hari, ritual adat Baremah digelar di rumah Kepala Desa Sehe Lusur di Dusun Sehe Embuluh, serta di salah satu rumah warga di Dusun Sehe Lusur.
Lima bilal memimpin prosesi sakral dengan menggunakan hasil bumi, sesajian, serta berbagai peralatan tradisional sebagai simbol rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Tak hanya bernilai spiritual, Tahun Baru Padi atau Roah juga menjadi momen sosial yang sangat kuat. Warga saling mengunjungi rumah satu sama lain untuk makan bersama, sebuah aktivitas yang mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi pondasi kehidupan masyarakat Dayak Balangin.
Pada malam hari, tradisi Bapuar dilaksanakan di mana warga berkeliling kampung dari rumah ke rumah sambil membagikan hasil panen padi.
Tradisi unik ini menjadi simbol berbagi rezeki dan kebersamaan, memastikan bahwa kegembiraan atas hasil bumi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh anggota komunitas.
Kemeriahan Roah semakin terasa dengan adanya turnamen sepak bola “Tahun Baru Padi” yang diikuti oleh 13 tim dari berbagai wilayah, termasuk dari Kecamatan Meranti dan Ngabang.
Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk berpartisipasi sekaligus mengenal serta melestarikan tradisi budaya lokal.
Tahun Baru Padi atau Roah di Dusun Sehe Embuluh bukan sekadar perayaan panen, namun menjadi simbol kuat identitas budaya dan persaudaraan yang terus dijaga di tengah arus modernisasi.
Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-gotong royong tetap hidup dan menjadi kekuatan masyarakat Dayak dalam menjaga keharmonisan sosial hingga saat ini.