Tentara Jepang Ungkap Tantangan dan Kesulitan saat Membantu Padamkan Karhutla di Kalbar
Sejumlah masalah dan tantangan dirasakan pasukan Jepang saat membantu memadamkan api karhutla di Kalimantan Barat selama menjalankan misi kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Humas Misi Kemanusiaan Jepang untuk Indonesia, Letkol Koga Takeshi, saat diwawancarai PonTV pada Selasa (22/9/2026).
Sejak tiba di Pelabuhan Kijing pada 10 September 2026 lalu, sudah dua pekan pasukan Jepang berada di Kalbar untuk membantu penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan.
Letkol Koga Takeshi menyebutkan pihak memboyong total 350 personel yang terdiri dari Kementerian Pertahanan Jepang serta anggota militer.
Selain itu, rombongan turut membawa 3 unit helikopter dan kendaraan darat pendukung.
Menurut Koga, selama bertugas di Kalbar, pihaknya merencanakan operasional water bombing selama 6 hingga 7 jam sehari.
Namun, rencana tersebut kerap terkendala akibat buruknya visibilitas atau jarak pandang. Ia menambahkan, jika tim bantuan dari Malaysia tiba, masalah jarak pandang juga akan menjadi tantangan serupa.
Buruknya jarak pandang membuat helikopter sulit untuk lepas landas. Kalaupun dapat terbang, petugas tetap kesulitan menentukan titik sumber api yang harus disiram.
Selain visibilitas, tantangan sulit lainnya dalam operasi water bombing adalah saat proses pengambilan air.
Pilot harus ekstra hati-hati memperhitungkan risiko keselamatan masyarakat di sekitar lokasi sumber air.
Akibatnya, pemadaman udara secara efektif hanya dapat dilakukan 2 sampai 3 kali dalam durasi satu jam penerbangan.
Saat ini, satu dari tiga helikopter Jepang telah dikerahkan menuju Kabupaten Ketapang untuk memadamkan api.
Sementara dua helikopter lainnya masih disiagakan di Pelabuhan Kijing, Mempawah.