Tradisi Kolak Ayam Gumeno, Peninggalan Sunan Dalem Lebih dari 5 Abad Masuk Warisan Budaya Tak Benda
Masyarakat Gresik, Jawa Timur, memiliki tradisi unik membuat kolak ayam setiap malam ke-23 di bulan suci Ramadan.
Tradisi yang telah berjalan selama lebih dari lima ratus tahun ini bukan sekadar kegiatan memasak biasa, melainkan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah sejak tahun 2019 yang lalu.
Beginilah aktivitas warga Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, saat bahu-membahu menyiapkan hidangan kolak ayam.
Pembuatan kolak ayam ini merupakan tradisi peninggalan Sunan Dalem, putra kedua dari Sunan Giri, yang sudah berlangsung secara turun-temurun selama 501 tahun di desa tersebut.
Tradisi ini bermula saat Sunan Dalem yang tinggal di Desa Gumeno mengalami sakit dan mendapatkan petunjuk spiritual untuk membuat kolak ayam sebagai obat.
Setelah mengonsumsi hidangan tersebut, kesehatan Sunan Dalem berangsur membaik hingga sembuh total, sehingga masyarakat setempat melestarikan resep tersebut hingga saat ini.
Ada beberapa syarat khusus yang harus dipatuhi oleh panitia dalam proses pembuatannya. Salah satunya adalah juru masak kolak ayam wajib laki-laki.
Selain itu, ayam yang digunakan harus jenis ayam kampung, dan air untuk memasak tidak boleh menggunakan air PDAM maupun air sumur tanah, melainkan harus menggunakan air tadah hujan.
Khusus untuk kebutuhan air, panitia telah menyiapkan tandon khusus penampung air hujan yang terletak di sebelah kanan Masjid Jami’ Sunan Dalem Gumeno.
Pada tahun ini, panitia menyediakan sebanyak 2.500 porsi kolak ayam yang nantinya akan dibagikan secara gratis kepada seluruh warga dan pengunjung yang datang ke lokasi.
Pelestarian budaya kolak ayam ini menjadi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah dakwah Islam di tanah Jawa.
Melalui tradisi ini, warga Desa Gumeno tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga di tengah kekhusyukan suasana sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.