Tradisi Roah Senakin: Simbol Kebersatuan Dayak Kanayatn dan Syukur Hasil Panen di Landak
Selama dua hari, masyarakat adat Dayak Kanayatn di Binua Tumila, Desa Senakin, Kabupaten Landak, menggelar tradisi sakral Roah Perdana.
Tak sekadar ungkapan syukur atas hasil panen, kegiatan ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya leluhur sekaligus simbol kebersatuan warga di tengah arus modernisasi.
Suasana khidmat dan penuh warna mewarnai Desa Senakin saat masyarakat adat Dayak Kanayatn menggelar Roah Perdana pada sembilan belas hingga dua puluh April dua ribu dua puluh enam.
Rangkaian acara diawali dengan ritual Naki Ka’ Panyugu yang dimulai dari pemberkatan benih di gereja. Benih tersebut kemudian diarak menuju lokasi Panyugu dalam pawai meriah dengan iringan musik tradisional serta tarian khas Dayak.
Setiba di lokasi, prosesi adat dipimpin oleh Panyangahatn. Ritual dilanjutkan dengan mengelilingi area keramat sebanyak tiga kali yang menjadi ciri khas tradisi Nabo’ Panyugu.
Dalam ritual ini, masyarakat membawa sesajian berupa ayam, babi, hingga telur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Turnamen sepak bola serta pemberian bantuan sosial kepada lansia turut mewarnai kemeriahan acara ini.
Wakil Bupati Landak, Erani, yang turut hadir mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai Roah Senakin memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional.
Rangkaian acara ditutup dengan tradisi makan bersama di rumah-rumah warga pada Senin kemarin. Tradisi Roah ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan budaya yang harus dijaga bersama demi generasi masa depan.