Warisan Leluhur Dayak Balangin Terus Hidup di Tengah Masyarakat
Seluruh kalangan masyarakat Dayak Balangin di Desa Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, menggelar tradisi Tahun Baru Padi atau Nae’ Padi Baru.
Tradisi turun-temurun ini menjadi momen ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus ritual menolak bala yang dikemas dalam prosesi sakral dan meriah.
Pada Minggu, 29 Maret 2026, warga Dayak Balangin dari berbagai penjuru Desa Sekendal maupun masyarakat lainnya berkumpul di Dusun Sekendal.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak siang hari dengan ritual Baremah di kediaman Kepala Dusun Mantoari. Ritual ini dipimpin oleh Bilal sebagai bagian dari tradisi Bapuar.
Dalam ritual tersebut, disiapkan berbagai sesaji seperti beras, ayam, babi, dan perlengkapan adat lainnya. Baremah menjadi simbol rasa syukur atas panen dan sarana membuang sial.
Di sisi lain, masyarakat saling berkunjung ke rumah keluarga dan tetangga untuk menikmati kue tradisional serta nasi dari padi baru sebagai simbol kebersamaan.
Menjelang sore, warga mulai mempersiapkan arak-arakan perahu. Sebuah tandu berbentuk sampan diangkat dan dihias untuk dikelilingkan ke seluruh kampung.
Sekitar pukul 17.00 WIB, arak-arakan dimulai dengan iringan alunan gong dan gendang. Setiap rumah turut berpartisipasi dengan menyumbang daun atau benda tertentu untuk dihanyutkan.
Puncak acara adalah prosesi Beranyun, yaitu menghanyutkan perahu ke sungai yang disaksikan oleh ribuan warga di tepi Sungai Sekendal.
Tradisi ini diyakini sebagai simbol membuang segala kesialan dan penyakit dari kampung. Melalui perayaan ini, masyarakat berharap agar ke depannya terus diberkati dengan rezeki yang baru, sembari berpesan kepada generasi muda untuk terus melestarikan adat budaya Dayak Balangin agar tidak punah dimakan zaman.