Bertahan di Tengah Harga Jual Rendah, Peraji Sapu Lidi Menyulam Harapan di Tumpukan Lidi Sawit
Di tengah arus modernisasi dan era pasar digital, sejumlah warga di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, masih menggantungkan hidup dari usaha tradisional sapu lidi.
Meski terkendala pemasaran dan rendahnya harga jual, mereka tetap bertahan memproduksi sapu lidi secara rumahan untuk menopang ekonomi keluarga.
Di teras rumah sederhananya di Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Lebak, Banten, tangan Emur tak berhenti merangkai lidi demi lidi.
Di desa ini, para perajin sapu lidi masih aktif berproduksi. Salah satunya adalah Emur yang telah menekuni usaha ini selama lima tahun terakhir sebagai sumber tambahan penghasilan.
Lidi dari pohon kelapa sawit dirangkai secara manual oleh para perajin. Bahan baku biasanya diperoleh dari perkebunan kelapa sawit di sekitar kampung, namun ketersediaannya sering kali terbatas dan sangat bergantung pada musim panen serta izin dari pemilik lahan perkebunan.
Dalam sehari, Emur mampu memproduksi tujuh hingga sepuluh ikat sapu lidi. Setiap ikat sapu lidi tersebut hanya dihargai sekitar 1.800 rupiah oleh pengepul yang datang langsung ke rumahnya.
Harga jual ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang dihabiskan untuk proses penyerutan hingga pengikatan.
Meski keuntungan yang didapat sangat tipis, Emur tetap bertahan karena usaha ini menjadi sandaran hidup yang realistis di tengah keterbatasan lapangan kerja lain. Dari tumpukan lidi kelapa sawit tersebut, ia menyulam harapan untuk keberlangsungan hidup keluarganya dengan semangat yang terus menyala.
Kisah para perajin di Desa Citeras ini menjadi potret nyata perjuangan sektor ekonomi tradisional yang mencoba bertahan di tengah gempuran produk modern dan sistem pasar digital yang kian masif. (JPTV)