Transisi Energi di Kalimantan Barat: Potensi Surya Khatulistiwa hingga Nuklir Melawi
Dorongan kuat untuk meninggalkan ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke Energi Baru Terbarukan atau EBT mengemuka dalam sebuah seminar energi nasional di Pontianak.
Dengan cadangan fosil yang kian menipis, Kalimantan Barat dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam transisi energi bersih, mulai dari tenaga surya hingga potensi nuklir.
Seminar energi yang digelar di Hotel Golden Tulip Pontianak pada Sabtu siang kemarin menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kebijakan.
Di antaranya Anggota Dewan Energi Nasional atau DEN, Dr. Muhammad Kholid Syeirazi, serta Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan.
Dalam paparannya, Dr. Kholid menegaskan bahwa Indonesia harus segera melakukan percepatan transisi energi. Mengingat cadangan minyak nasional diperkirakan hanya tersisa sebelas tahun, gas bumi empat belas tahun, dan batu bara sekitar tiga puluh enam tahun lagi.
Sebagai solusi, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi rendah karbon seperti Carbon Capture and Storage atau CCS. Meski masih tergolong mahal, teknologi penangkapan emisi karbon ini dinilai akan semakin ekonomis di masa depan.
Kalimantan Barat dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan energi surya karena berada di jalur khatulistiwa. Namun, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS masih menghadapi tantangan besar dari sisi investasi dan teknologi penyimpanan.
Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, menyatakan pihaknya terus mendorong penggunaan energi terbarukan, salah satunya melalui pemasangan lampu jalan berbasis tenaga surya.
Selain surya, wilayah Melawi juga mulai dilirik karena memiliki cadangan uranium untuk pengembangan PLTN di masa depan.
Rektor UNU Kalbar, Prof. Dr. Sukino, turut menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam mengedukasi mahasiswa terkait transisi energi. Indonesia sendiri menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan mencapai tujuh puluh persen pada tahun dua ribu enam puluh mendatang.