Solusi Krisis Air Bersih di Pontianak, Untan Dorong Penggunaan Teknologi Desalinasi
FOTO: Musim kemarau dan interupsi air laut mengancam pasokan air bersih Pontianak. Akademisi Untan kaji teknologi desalinasi sebagai solusi masa depan. (Ist.)
Pontianak — Musim kemarau yang melanda Kalimantan Barat mulai mengancam kualitas dan ketersediaan air bersih di sejumlah daerah.
Sungai Kapuas yang selama ini menjadi sumber air baku utama mengalami penurunan debit hingga menghadapi ancaman pencemaran.
Fenomena interupsi air laut yang terjadi sejak sebulan terakhir membuat air Sungai Kapuas di wilayah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya yang semula tawar berubah menjadi payau dan asin.
Sebagai alternatif jawaban atas krisis tersebut, teknologi desalinasi kini tengah dikembangkan dan dikaji untuk mengolah air laut menjadi air tawar berkualitas tinggi hingga layak konsumsi.
Ketua Jurusan Teknik Kelautan Universitas Tanjungpura, Dr. M. Meddy Danial, menjelaskan bahwa proses desalinasi mengandalkan teknologi pemurnian Reverse Osmosis (RO).
“Prinsipnya adalah bagaimana air laut yang memiliki kadar garam tinggi kita tekan menggunakan pompa bertekanan tinggi, kemudian dilewatkan melalui membran RO. Garam dan zat-zat terlarut akan tertahan, sementara airnya dapat melewati membran,” jelas Meddy.
Meddy memaparkan bahwa sistem membutuhkan high-pressure pump untuk menembus tekanan osmosis air laut yang sangat tinggi.
Lewat proses ini, kadar Total Dissolved Solids (TDS) air laut yang berkisar 10.000 ppm dapat ditekan secara drastis hingga berada pada kisaran 10 hingga 50 ppm.
Teknologi ini tidak hanya memangkas rasa asin, tetapi juga mampu menghasilkan air baku dengan tingkat kemurnian yang sangat baik.
“Jadi yang kita hasilkan bukan hanya air tawar, tetapi air dengan kualitas yang sangat baik. Namun setelah proses RO, tetap harus ada tahap pengamanan atau sterilisasi agar air benar-benar memenuhi persyaratan sebagai air minum,” terang Meddy.
Untuk menjamin keamanan konsumsi, hasil pemurnian dilanjutkan dengan proses sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV) guna menonaktifkan mikroorganisme seperti bakteri Escherichia coli.
Menariknya, proses utama desalinasi ini beroperasi melalui tahapan fisik murni tanpa harus bergantung pada penggunaan bahan kimia.
Meski demikian, tantangan terbesar dari penerapan teknologi ini terletak pada tingginya kebutuhan energi serta biaya operasional pompa bertekanan tinggi.
“Desalinasi ini sebenarnya bukan teknologi baru. Tetapi ke depan, teknologi ini sangat mungkin menjadi salah satu alternatif sumber air baku. Apalagi kita memiliki sumber daya air laut yang sangat besar,” kata Meddy.
Ia mengingatkan pentingnya pengujian karakteristik air baku secara berkala guna mendeteksi potensi pencemaran logam berat seperti merkuri sebelum pengolahan dilakukan.
“Yang paling penting adalah kita harus mengetahui dulu karakteristik air bakunya. Jadi sebelum menentukan teknologinya, air harus diuji. Dari hasil pengujian itu baru kita bisa menentukan treatment yang paling tepat dan ekonomis,” lanjutnya.
Ke depan, penerapan teknologi desalinasi ini dinilai sangat berpotensi dipadukan dengan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya.
“Cepat atau lambat, kita membutuhkan teknologi desalinasi. Kita punya sumber daya alam yang luar biasa, ada matahari dan ada air laut. Tinggal bagaimana teknologi ini kita kembangkan supaya lebih efisien, ekonomis, dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” pungkasnya.***