Festival Literasi Kapuas 2026: Wadah Anak-Anak Pesisir Rawat Narasi Lokal dan Budaya Sungai
Pontv.id – Puncak perayaan literasi bernuansa kebudayaan lokal sukses digelar di kawasan tepian Sungai Kapuas, Rumah Budaya Kampung Caping, Jalan Imam Bonjol, Kota Pontianak, Sabtu (8/8/2026). Melalui ajang Festival Literasi Kapuas, lahir deretan penulis cilik yang berasal dari lingkungan pesisir sungai tertua dan terpanjang di Indonesia tersebut.
Kegiatan ini merupakan puncak dari program Krida Kapuas: Karya Antologi Pesisir: Ungkapan Anak-Anak Sungai yang digagas oleh Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026. Program ini dirancang khusus untuk meningkatkan literasi generasi muda sekaligus menjaga keberlanjutan bahasa dan budaya lokal melalui karya sastra.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah anak pesisir Sungai Kapuas berusia 9 hingga 15 tahun mengikuti proses pendampingan menulis kreatif selama lebih dari satu bulan. Para peserta mendapatkan pembekalan komprehensif mulai dari eksplorasi ide, penyusunan kerangka cerita, penggalian informasi, penulisan, pembuatan ilustrasi, hingga penyuntingan (editing).
Dari proses intensif tersebut, lahir sepuluh karya cerita anak yang dihimpun secara resmi dalam satu wadah berupa Buku Antologi Kapuas. Buku ini menjadi rekam jejak dokumentasi nyata atas pengalaman, ingatan, dan dinamika anak-anak yang tumbuh besar di lingkungan pesisir Sungai Kapuas.
Ketua Penyelenggara Krida Kapuas, Dimas Saputra, mengungkapkan latar belakang utama dihadirkannya gerakan ini di tengah derasnya arus modernisasi.
“Zaman sekarang sudah serba cepat. Kalau tidak ada yang meneruskan dan menjaga narasi lokal ini, maka narasi tersebut akan hilang terbawa oleh zaman. Untuk itulah hadir sebuah krida yang bernama Kapuas,” ujar Dimas.
Dimas tak menampik bahwa tantangan terbesar selama pendampingan adalah menjaga konsistensi peserta mengingat rentang usia 9–15 tahun masih dominan menghabiskan waktu untuk bermain. Guna mengatasi hal itu, metode yang diterapkan dibuat sangat kreatif dan interaktif.
“Untuk anak-anak usia sembilan sampai lima belas tahun, kita memang mencoba mengatasi tantangan ini dengan membuat pendampingan kreatif. Jadi mereka tidak hanya menulis saja, tapi kita juga ada mendongkrak dan mengajak mereka keluar untuk mengeksplorasi sekitar,” jelasnya.
Apresiasi tinggi turut dilayangkan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Uniawati. Ia menilai anak-anak yang tumbuh di pesisir Kapuas memiliki memori kolektif dan kekayaan pengalaman unik yang belum tentu dimiliki oleh anak-anak dari kawasan permukiman lain. Oleh sebab itu, dokumentasi tulisan sangat penting agar narasi tradisi tidak hilang ditelan zaman.
“Ini merupakan ruang untuk mengapresiasi proses yang telah mereka laksanakan dengan melibatkan anak-anak yang hidup di pesisir Sungai Kapuas. Mereka dilatih untuk menuliskan cerita pengalaman mereka dalam bertumbuh dan berkembang di sekitar Sungai Kapuas,” kata Uniawati.
Ia juga menekankan pentingnya komitmen jangka panjang agar program literasi seperti ini tidak sekadar menjadi tren sesaat.
“Saya selalu berpesan agar membuat program itu tidak hanya sifatnya kontemporer, tetapi bagaimana harus memikirkan sebuah program yang bisa berkelanjutan. Ini merupakan bentuk komitmen yang coba kita bangun bersama-sama,” tegasnya.
Festival Literasi Kapuas 2026 juga dirangkaikan dengan berbagai agenda menarik, seperti peluncuran dan bedah buku, wicara penulis cilik, pameran, panggung seni dan sastra terbuka, penobatan Penulis Cilik Kampung Caping, hingga bioskop keliling berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Kalbar.
Melalui program Krida Kapuas ini, diharapkan lahir generasi penulis muda yang bangga berbahasa Indonesia, mencintai akar budaya daerah, serta mampu mendokumentasikan identitas lokalnya. Program berbobot ini nantinya juga akan diusung oleh Duta Bahasa Kalbar dalam ajang kompetisi di tingkat nasional.
Ringkasan Berita:
-
Duta Bahasa Kalbar 2026 menggelar Festival Literasi Kapuas di tepian Sungai Kapuas, Rumah Budaya Kampung Caping, Jalan Imam Bonjol, Pontianak, Sabtu (8/8/2026).
-
Acara ini menjadi puncak pendampingan menulis kreatif selama lebih dari sebulan yang menghasilkan Buku Antologi Kapuas berisi 10 karya anak-anak pesisir sungai.
-
Ketua Penyelenggara Dimas Saputra menyebut program ini penting untuk menyelamatkan narasi budaya lokal agar tidak punah tergerus zaman lewat metode belajar interaktif.
-
Kepala Balai Bahasa Kalbar Uniawati mengapresiasi karya anak pesisir dan mendorong agar program pendampingan literasi ini berjalan secara berkelanjutan (sustainable).
-
Selain peluncuran buku, festival diisi dengan wicara penulis cilik, bedah buku, panggung seni sastra, serta bioskop keliling, dan siap diusung ke tingkat nasional.
