Tanggapi Karhutla di Konsesi Ketapang dan Kayong Utara, PT Mayawana Persada Terjunkan 170 Personel
FOTO: PT Mayawana Persada mengklaim terus menanggulangi karhutla di konsesi Ketapang dan Kayong Utara dengan mengerahkan 170 personel serta mengatur tata kelola gambut. (Dok./Mayawana)
Pontianak — Upaya penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) diklaim terus dilakukan secara intensif di areal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT Mayawana Persada di Kalimantan Barat.
Wilayah kerja penanganan tersebut mencakup areal konsesi perusahaan yang berada di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Melalui rilis resminya pada Selasa, 25 Agustus 2026, pihak perusahaan menyatakan bahwa penanganan karhutla difokuskan untuk menjaga kelestarian hutan, kualitas udara, kestabilan lingkungan, serta keselamatan masyarakat luas.
Dengan menerapkan prinsip melokalisasi api sedini mungkin, koordinasi terpadu dilakukan lewat pemantauan titik panas secara real-time melalui platform SiPongi yang disinkronkan dengan patroli darat harian.
Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman, menegaskan fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan penanganan di lapangan berjalan secepat mungkin.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar Iwan.
Ia menambahkan bahwa perusahaan juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kawasan ke depan.
“Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” jelasnya.
Untuk mendukung respons di lapangan, PT Mayawana Persada mengerahkan tujuh regu inti beserta regu pendukung dengan total 170 personel yang disiagakan di delapan posko pemadam.
Penanganan tersebut didukung sarana pemadaman standar P32, menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air (water point) yang tersebar di empat sektor operasional.
Tim di lapangan menjalankan patroli rutin selama 24 jam setiap hari, melakukan pemadaman langsung, membuat sekat bakar, hingga melakukan proses pendinginan area setelah api berhasil dikendalikan.
Selain aksi tanggap darurat, perusahaan menempatkan tata kelola hidrologi sebagai bagian penting untuk menekan risiko kebakaran pada lahan gambut.
Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada, Agus Trijoko, meluruskan pandangan terkait fungsi keberadaan saluran air di dalam konsesi.
Menurut Agus, seluruh jaringan kanal justru difungsikan untuk menahan dan mengatur distribusi air (rewetting).
“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan,” jelas Agus.
Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter agar lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman.
Langkah pengelolaan hidrologi ini mengacu pada PP 71/2014 jo. PP 57/2016 serta literatur ilmiah restorasi gambut tropis guna mencegah kebakaran di bawah permukaan tanah (smoldering combustion).
Pemantauan tinggi muka air tersebut dikontrol secara real-time selama 24 jam melalui stasiun sensor telemetri otomatis (level logger).
Selain itu, pihak perusahaan mengklaim kawasan konservasi berkanopi rapat yang dikelola tetap menjadi koridor jelajah aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya.***