Jati Diri Bangsa, Perayaan Naik Dango ke-41 Perkuat Persatuan Masyarakat Dayak
Perayaan Adat Naik Dango ke-41 yang dipusatkan di Desa Lingga, Kabupaten Kubu Raya, menjadi momentum besar bagi persatuan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Tradisi ungkapan syukur atas hasil panen ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga wujud nyata dukungan pemerintah daerah dalam menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
Ribuan masyarakat adat Dayak dari tiga kabupaten bersatu dalam perayaan sakral Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus, menyebut perayaan tahun ini memiliki makna sejarah yang kuat. Selain sebagai ritual syukur kepada Jubata atas hasil panen, kegiatan ini menjadi awal spiritual sebelum memasuki musim tanam berikutnya.
Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menegaskan bahwa budaya adalah jati diri bangsa yang harus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya telah mengalokasikan anggaran sekitar 1,22 miliar rupiah.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung rangkaian acara, serta pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan menuju kawasan Rumah Betang.
Kegiatan yang berlangsung sejak dua puluh lima hingga dua puluh delapan April ini turut diikuti dengan antusias oleh peserta dari berbagai daerah.
Mereka mengaku bangga tradisi leluhur ini tetap terjaga dan mendapat perhatian besar dari pemerintah.
Perayaan Naik Dango ke-41 ini diharapkan terus menjadi warisan budaya yang lestari, sekaligus menjadi motor penggerak pariwisata berbasis kearifan lokal di Kalimantan Barat.