Pelajar Terdeteksi Masuk Grup Digital Radikal, KPPAD Kalbar Gandeng Densus 88 Perkuat Sekolah
KPPAD Kalbar menggelar dialog lintas sektor bersama Densus 88 dan guru untuk menangkal paham radikalisme di sekolah, menyusul adanya temuan siswa terpapar grup digital.
Lewat dialog, KPPAD menekankan sekolah harus mampu mengidentifikasi radikalisme sejak dini di ruang kelas.
Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat menggelar dialog interaktif guna memperkuat peran guru dan pelajar dalam menangkal penyebaran paham ekstremisme serta radikalisme di lingkungan sekolah.
Dialog yang melibatkan para kepala sekolah, guru BK, hingga pengurus OSIS ini dilangsungkan di Kubu Raya pada Senin, 27 April 2026.
Forum ini juga menghadirkan kolaborasi lintas sektor seperti Dinas Perlindungan Anak, ABKIN, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), hingga personel Densus 88 Antiteror.
Langkah ini diambil sebagai respons atas adanya temuan kasus yang melibatkan pelajar dan sempat mengejutkan publik beberapa waktu lalu.
Menurut Ketua Pengurus Daerah Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia atau ABKIN Kalbar, Tri Mega Ralarsari, tanggung jawab pencegahan tidak boleh hanya dibebankan kepada guru BK.
Karena itu, pihaknya mendorong penerapan konsep kolaboratif yang melibatkan seluruh ekosistem sekolah dan mitra terkait.
Dengan adanya pendekatan kolektif ini, beban deteksi dini diharapkan menjadi tanggung jawab bersama para pemangku kepentingan.
Sinergi ini diyakini akan lebih efektif dalam menutup celah bagi masuknya paham radikalisme dan ekstremisme ke lingkungan sekolah di Kalimantan Barat.