Imbas Harga Gas, Pengrajin Ikan Asin di Subang Beralih ke Kayu Bakar
Harga gas elpiji non-subsidi yang terus merangkak naik kini kian memberatkan para pelaku usaha kecil di kawasan Pantura Subang, Jawa Barat.
Agar usaha tidak gulung tikar, para pengrajin ikan asin terpaksa memutar otak dan ramai-ramai beralih kembali menggunakan kayu bakar untuk proses perebusan.
Beginilah kesibukan di sentra pengrajin ikan asin rebus di kawasan Pantura Muara Ciasem, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
Asap tebal tampak mengepul dari tungku-tungku tradisional milik warga sejak pagi hari.
Kenaikan harga gas elpiji non-subsidi yang signifikan telah membuat biaya produksi pengrajin membengkak tajam.
Jika tetap bertahan menggunakan gas, mereka mengaku tidak akan mendapatkan keuntungan karena harga jual ikan asin di pasaran cenderung stabil.
Untuk menyiasati kelangsungan usaha, kayu bakar kini menjadi solusi utama. Meski proses pemasakan memakan waktu lebih lama dan kurang praktis, penggunaan kayu bakar dinilai jauh lebih ekonomis. Biaya operasional bahkan dapat ditekan hingga lima puluh persen.
Kini para pengrajin berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga energi, khususnya bagi pelaku usaha mikro.
Hal ini dinilai penting agar sektor pengolahan ikan tradisional di pesisir utara Subang dapat tetap bertahan di tengah himpitan ekonomi.